Andalan
Diposkan pada cerpen

Cerpen Kisah – Kisah Selembar Uang

Sebelum kau bercerita, kau  bilang aku harus menjernihkan  pikiranku  dari segala perspektif baik tentang dunia ini. Kau bilang wajah dunia yang sebenarnya tak seagung  yang kukira. Baiklah, biar aku menghirup nafas sejenak lantas mendengar kisahmu. Kisah yang kau bilang merupakan pengalaman terhebatmu selama diedarkan di negeri ini sebagai selembar kertas bernominal. Selain itu, kau mengatakan bahwa sebelum aku mendengar ceritamu, aku harus bersikap sabar dan tidak kemrungsung, karena apa yang kau ceritakan harus mengalir layaknya mata air pegunungan.  Aku sudah penasaran dan aku menuruti apa yang kau perintahkan.

            Cerita ini kau awali dengan peristiwa pertemuanmu pertama kali dengan seorang perempuan berjas hitam serba formal. Kau melihat dengan seksama bahwa ia bekerja dengan sangat cekatan. Kau keluar dari sebuah mesin cetak lantas wanita itu segera mengambil dan merapikanmu. Kau bilang tangannya sangat halus sampai-sampai kau mengira ia tak pernah mencuci piringnya sendiri di rumah. Usai keluar dari mesin-mesin yang berdesing halus itu, kau ditumpuk dengan kawananmu yang sejenis lantas kau berbincang dengan mereka untuk sekedar basa-basi sebagai sesama kertas yang beberapa hari kemudian  kau  baru tahu bahwa dirimu bernama uang. Terutama setelah seisi ruangan sering menyebut dan memanggilmu uang.

Ceritamu selanjutnya, kau mengatakan bahwa entah bagaimana kejadiannya, tiba-tiba kau tertidur. Tertidur untuk waktu yang lama. Sampai kau terbangun dan menyadari dirimu sudah berada dalam  mesin kasir bank yang  juga kau baru mengetahui namanya mesin kasir setelah beberapa hari kemudian. Kau merasakan hari-hari dengan dinginnya pendingin udara bersama lembaran-lembaran lain. Kau menceritakan ini sembari mengembangkan senyum dan bersyukur atas ingatan-ingatan yang Tuhan berikan. Atas perlakuan orang-orang di ruangan lengang itu terhadapmu. Kau layaknya merasakan kasih ibu yang diberikan akuntan-akuntan itu. Kau mengatakan bahwa dirimu ditata begitu rapi. Tak ada sisi dirimu yang terlipat bahkan lecek. Kau bilang kau  sangat bangga saat itu.

            Sekali lagi kau berharap agar aku menanamkan baik-baik sikap sabar dalam mendengar ceritamu. Baiklah, aku masih dan akan tetap bersabar.

            Setelah beberapa helaan nafas, kau  melanjutkan ceritamu masih dengan citarasa mengalir nan santai. Kau bilang saat berada dalam mesin kasir bank kau kembali tertidur untuk waktu yang lama. Lalu, usai berhibernasi sedemikian lama, kau terbangun dalam keadaan rapi telentang, hanya saja tempatnya yang berbeda. Kini kau berada dalam sebuah  ruangan sempit. Dinding-dindingnya terbuat dari semacam kulit berwarna kecoklatan dengan semacam  resleting di bagian pintu masuk. Yang  beberapa hari kemudian kau mengetahui bahwa namanya adalah dompet.

            Tak lama berada dalam ruangan itu, kau merasakan tubuhmu ditarik ke luar oleh jari jemari yang cukup kasar namun kau tetap bisa merasakan bahwa jari-jemari itu adalah jari-jemari seorang wanita. Sambil terkekeh, kau bilang ini kebalikan dari wanita pertama yang kau temui dalam ruangan yang berisikan mesin-mesin. Ketika kau ditarik ke luar, kau mendengar sekilas percakapan wanita itu dengan seorang wanita lain. “totalnya seratus lima puluh satu ribu rupiah,” ujarmu menirukan wanita itu. Jadilah kau berada kembali dalam sebuah mesin kasir yang tentu sudah tak asing bagimu. Dan kau menjadi tahu bahwa yang kau alami barusan dinamakan proses transaksi atau belanja.

            Sebelum cerita berlanjut, kau menyadari sesuatu. Dari berpuluh-puluh kali kau ditarik dan dimasukan dalam mesin kasir maupun diberikan pada sopir angkutan kota yang bermandikan keringat, kau menjadi sadar, bahwa kau adalah sesuatu paling berguna di dunia ini. Kau memang benar. Aku bisa melihat ada begitu banyak bagian dirimu yang tak lagi semulus dulu.

Lalu kau mengatakan bahwa kau pernah tinggal dalam sebuah rumah yang cukup luas dengan pintu tertutup rapat kecuali pemilikmu menekan kode-kode tertentu yang ada pada pintu rumahmu. Yang kemudian kau kenal dengan berangkas. Kau bercerita, ada satu hal yang sangat berbeda ketika kau menjadi uang kepunyaan petinggi negeri di dalam berangkasnya. Kau bilang, kawan-kawanmu di dalam berangkas benar-benar berbeda tidak seperti kawan-kawanmu di dompet-dompet yang sebelumnya kau tinggali. Kau bilang mereka sedikit angkuh dan tak bersahabat. Kau sering mendengar mereka membicarakan saham-saham dan ilmu-ilmu keuangan lainnya. Kau merasa kesepian di sana karena mereka enggan mengajakmu berbincang, dengan dalih kau mempunyai derajat yang berbeda dengan mereka. Mereka bilang kau tidak seperti mereka yang memang sudah sejak awal melewati mesin cetak, mereka langsung menempati tempat elit seperti berangkas itu. Akhirnya kau hanya bisa murung di sana. Yang aneh pula dalam hitungan hari jumlah kawanan uang elit itu bertambah terus-menerus, layaknya beranak yang sebenarnya kau curiga dari mana pria-yang mereka bilang sebut anggota DPR- mendapatkan uangnya. Dan akhirnya kau hanya minoritas. Kau  satu-satunya lembaran yang entah bagaimana ceritanya bisa memasuki tempat elit itu. “Ya Tuhan, kenapa aku bisa berada dalam berangkas ini. Aku bukanlah jenis elit seperti mereka,”ucapmu mengulang perkataanmu di sana.

            Kau memberi jeda sejenak untuk menegaskan bahwa apa yang sebenarnya kau kisahkan sampai detik ini bukanlah kisah yang aku harapkan. Maksudmu cerita ini adalah cerita yang datar. Kau dan aku sama-sama sadar bahwa ceritamu belum menyuguhkan suatu konflik apapun. Bahkan aku menganggapnya seperti sebuah laporan peristiwa. Kau menambahkan bahwasannya apa yang kau kisahkan sampai detik ini hanyalah perkataan belaka tanpa memperhatikan nilai estetika sebuah kisah. Sebuah cerita yang sangan monoton yang bahkan  tanpa kau ceritakan aku pun  tahu apa itu belanja, apa itu uang, dan apa itu mesin kasir. Kau paham betul bahwa aku pasti merasa bosan meski aku masih mendengar dengan mata antusias bak  mata singa mengawasi mangsanya.

Sekali lagi kau menghimbau agar aku bersabar mendengar kisahmu. Karena kisah yang sebetulnya baru akan dimulai.  ketika aku menyadari bahwa tidak ada yang spesial dalam kisahmu barusan, kau justru berkali-kali memintaku  mendengarkannya baik-baik. Karena inilah gaya berceritamu. Sesuatu yang aku kira biasa-biasa saja, sesuatu yang aku anggap datar tak menggugah emosi, justru merupakan sesuatu yang menyimpan sesuatu yang mendalam. Karena yang kau tekankan bukanlah terburu-buru membuat emosiku tercampur aduk sedemikian  rupa. Melainkan kau ingin aku menyadari tabia kehidupan yang agung ini. Kau ingin aku menjadi lebih mengerti seluk-beluk kehidupan atas  peristiwa-peristiwa  hebat yang kau jalani.

Lantas aku memintamu segera melanjutkan ceritamu dan  kau setuju. Kau mengatakan, pada suatu malam yang dingin setelah kembali tertidur panjang layaknya hibernasi seperti yang sering kau alami sebelumnya, kau terbangun dengan keadaan berada di persimpangan jalan. Benar-benar di persimpangan jalan di sebuah kota dengan lampu-lampu jalan yang dihinggapi ratusan laron. Kau tak tahu menahu apa yang sebelumnya terjadi padamu. Kau bilang, kau lupa-lupa ingat bahwa terakhir kali kau berada dalam berangkas atau kantong kulot berwarna kebiruan. Yang jelas kau berada di sana tak sendirian melainkan bersama dengan lembaran lain. Tapi kini entah bagaimana ceritanya kau sudah berada di persimpangan jalan. Kau bisa melihat mesin-mesin beroda melesat kencang dan bahkan kau hampir melayang-layang tertiup angin embusannya.

Tampak jelas kau menceritakan bagian-bagian ini dengan raut muram. Di sinilah semuanya dimulai. Tak butuh waktu lama kau merasakan dinginnya malam. Seorang pemuda berambut acak-acakan mendekatimu dengan langkah yang sempoyongan dan matanya begitu merah. Ia mengerjap beberapa kali seolah tak percaya ada secarik dirimu telentang di jalanan itu. Pemuda itu mengusap kepalanya yang kau kira terasa pusing, lantas menengok ke kanan dan kiri mencari-cari orang yang mungkin kehilangan sosok dirimu diantara lembaran-lembaran lain.

Kau paham betul keadaan pemuda itu karena acapkali kau berada dalam genggaman orang-orang yang berjalan kesana kemari sempoyongan dengan tangan lainnya mencengkeram botol minuman memabukkan. Kau memperhatikan pemuda itu dengan berharap ia akan mengadopsimu dan menempatkanmu di tempat yang layak, bukan di jalanan dingin seperti ini. Kau merasa ngeri membayangkan jika tiba-tiba hujan datang menggguyur disertai gelagak tawa bersahut-sahutan. Tak butuh waktu lama, pemuda itu akhirnya mengabulkan harapanmu. Ia menyentuh dan mengelusmu dengan kehangatan lantas menyelipkanmu pada saku celana. Kau dibawanya menuju sebuah rumah dengan beberapa kamar terpisah. Yang kau tahu bahwa namanya adalah kost.

Selanjutnya kau bercerita bahwa kau ditarik dari saku celana dan hendak diletakan dalam sebuah tempat tidur yang sangat kau kenali. Belum sampai kau memasuki tempat tidurmu, kau melihat seorang pemuda lain memasuki ruang kamar dengan raut frustasi sembari mengusap wajah tampannya dan matanya seketika menelanjangi tiap sudut kamar tak terkecuali pemuda yang sedang menggenggammu.

“Apa kau melihat uang tergeletak di kamar ini? Itu satu-satunya uang yang tersisa di saku celanaku. Sialan! Bagaimana bisa ini hilang tiba-tiba ketika aku membutuhkannya segera. Aku ingat betul meletakannya di saku celana ini,” ucapmu menirukan si pemuda tampan. Kau melihatnya kelimpungan membuka tirai-tirai, tumpukan buku-buku, dan tumpukan celana dalam di sudut kamar. Ia begitu sibuk menelanjangi seisi kamar.

“Mana kutahu, salah siapa teledor. Sudahlah jika tak sanggup hidup sendiri, pulanglah kepada ayah atau ibumu mumpung mereka masih hidup. Tak usah sok-sokan kabur dari rumah. Punya uang saja tidak,” ketus pemuda acak-acakan itu masih dengan mabuknya yang belum tuntas.

Mendengar respon tak bersahabat itu, si pemuda tampan menoleh dan matanya langsung tertuju pada dirimu yang saat itu masih berada dalam genggaman tangan pemuda mabuk. Kau bilang ia terkekeh sejenak lantas mendekat. Maksudmu mendekati si pemuda mabuk.

“Lalu uang siapa yang kau pegang saat ini, hah? Bukannya tadi sore kau bilang tak ada uang tersisa di dompetmu melainkan hanya kartu atm? Kau yang mengambil uangku, ‘kan?” tuduh pemuda tampan itu.

Kau menceritakan pada saat itu kau merasa sedikit canggung dengan tuduhan pemuda itu. Kau tahu betul bahwa si pemuda acak-acakan hanyalah mengadopsimu dalam perjalanan pulangnya menuju kost. Namun kau tak bisa menyimpulkan apa-apa karena kau juga sebelumnya berhibernasi.

“Kembalikan uangku, berengsek!” pemuda tampan itu tiba-tiba menyambarmu dengan paksa. Kau melihat jari-jemarinya berwarna merah pekat seperti terkena tinta atau cat. Kau bilang entahlah, yang jelas ia menarikmu dengan bringas tanpa tahu-menahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan pemuda yang memegangmu sontak terbelalak dan bersungut-sungut apalagi ia dalam keadaan mabuk. Memancing emosi menjadi sama mudahnya dengan membalikkan telapak tangan. Seketika pemuda mabuk itu melayangkan kepalan tangannya dengan amat ringan sembari menggenggammu makin erat. Wajah mereka berdua memerah dan kau bilang bahwa kau merasa sedikit takut kalau-kalau terjadi sesuatu denganmu. Si pemuda tampan mengaduh kesakitan lantas mencengkeram kerah baju pemuda mabuk dengan nafas memburu.

“Kau harusnya bersyukur sudah kuberi tempat tidur di sini, bangsat! Jaga sikapmu. Jika bukan karena kau menyimpan rahasiaku, kau sudah kuusir pulang. Jangan asal menuduh. Keuanganku tidak sesekarat itu, bodoh! Pulanglah ke ayahmu yang seorang dewan DPR kaya raya!” dada si pemuda mabuk itu naik turun diiringi tatapan ketus. “lagipula, apa susahnya pulang ke rumah,  sih? Apa susahnya mengikuti keinginan orangtuamu untuk beragama? Kau tak perlu luntang-lantung seperti ini jika menuruti mereka, bodoh! Sekarang kau hanya menyusahkanku.” Pemuda mabuk ini melepas cengkeraman pemuda tampan dan melanjutkan, “dasar cengeng. Sok-sokan menjunjung tinggi toleransi agama dan kabur dari rumah. Padahal uang saja tidak ada. Sudahlah, pulang saja lalu pergi menuju gereja atau masjid. Setelah itu ambil uang bulananmu. Baru kau bisa sok-sokan kabur dari rumah. Seperti itu baru namanya cerdas.” Ia menepuk-nepuk pundak pemuda dihadapannya itu.

Kau memberi jeda sedikit ketika bercerita. Kau bilang saat itu kau sangat terkejut setelah mengerti apa yang sebenarnya terjadi antara mereka. Kau tak pernah menyangka akan jadi bagian dari keributan seperti ini. Kau hanyalah secarik kertas.  Lantas kau melanjutkan kembali.

“kenapa kau ungkit-ungkit masalah keluargaku lagi, hah?! Kita sudah sepakat sebelumnya. Aku tidak akan membeberkan pada orangtuamu bahwa kau memerkosa seorang gadis. Dan kau sudah sepakat pula untuk tidak mengungkit-ungkit perceraian orangtuaku.” Ucapmu menirukan pemuda tampan.

Kau bilang si pemuda mabuk malah tersenyum miring dengan mata merah karena mabuknya yang entah sudah level berapa.

“baru kali ini aku bertemu teman yang bodohnya minta ampun. Ha ha ha,” pemuda mabuk itu terpingkal-pingkal. Alhasil si pemuda tampan kembali menanjak amarahnya. Dadanya bergerak naik turun. Urat-urat keningnya tercetak jelas.

            “apa katamu?!” ucap pemuda tampan.

Si pemuda mabuk hanya cengar-cengir lantas menerjunkan tubuhnya pada ranjang di kamar itu. Dan kau tak sengaja lepas dari cengkeramannya. Kau menyaksikan pemuda itu mengerjap beberapa kali. Ia berusaha tertidur dan mengabaikan permasalahan kawannya. Namun, ia tak kunjung terlelap yang ada hanyalah sibuk memegangi keningnya akibat rasa pusing. Pada saat itu, kau diam-diam memperhatikan pemuda tampan, yang sejak kau terjatuh, ia beranjak keluar masih dengan wajah bersungut-sungut disertai kekhawatiran.

            Kau melihat ia dari sela-sela pintu yang terbuka. Ia tampak mengambil ponsel dari saku celana lantas mengetikkan sesuatu di layar dengan tawa yang ganjil. Setelah itu, kau melihatnya menempelkan layar ponsel di telinga dan kau diam-diam menguping apa yang ia katakan di sana.

            “selamat malam Pak Ustaz, saya Zen, teman Ivan,” ucapmu menirukan pemuda tampan yang ternyata namanya adalah Zen. Dan kau akhirnya tahu bahwa pemuda mabuk itu bernama Ivan. “mmm… saya mau bilang sesuatu, Pak. Anu, saya kan nginep di kamar kost Ivan. Nah, minggu lalu Ivan cerita katanya dia tidak sengaja memperkosa seorang gadis di kelab. Dan sekarang Ivan sedang mabuk,” lanjutmu menirukan. Kau bilang Zen bertelepon dengan suara yang dilantangkan. Dan kau mengira jika ia sengaja melakukannya untuk mengusili Ivan. Tak lama setelah beberapa percakapan, ia menyudahi sambungan teleponnya dan kau terkejut kesekian kalinya. Tiba-tiba kau terinjak oleh kaki Ivan yang sedari tadi masih telentang di atas ranjang. Ternyata ia terbangun dan kau menebak ia sayup-sayup mendengar percakapan Zen dengan Pak Ustaz yang juga kau tebak merupakan ayah Ivan.

            Ivan bangun dan berlari mendekati Zen yang masih mengembangkan tawa. Kau bercerita bahwa Ivan lagi-lagi melayangkan kepalan tangannya. Satu dan dua hantaman. Zen masih diam menerima luapan amarah kawannya itu. Meski kau melihat cairan merah mulai mencuat dari sudut bibir, Zen masih diam dengan gelagatnya.

Hantaman ketiga.

“coba kau pikirkan apa yang harus aku katakan kepada ayahku, keparat! Dia pasti akan segera datang membawa cambuk jika dia tahu aku mabuk-mabukan!”

Keempat.

 Kau bilang bahwa kau merasa ngilu dan pilu menyaksikan semua ini.

Kau menatap lamat-lamat sudut mata Zen yang mulai basah. Suaranya lirih terdengar seperti isakan.

Lagi-lagi kau menceritakan bagian ini dengan raut sendu yang mendalam. Menghela nafas sejenak, lantas kau melanjutkan.

“ayo lawan aku! Katanya kau hebat berani kabur dari rumah. Ayo balas aku!” Ivan membabi buta dibawah pengaruh alkohol.

“teruskan saja, Van. Sampai aku babak belur. Biar kau merasa bersalah sampai ke tulang-tulang ketika kau sadar dari mabukmu nanti. Supaya kita impas sama-sama masuk sel.”

kelima.

Ini merupakan pukulan pamungkasnya karena Ivan sudah merasa lelah sendiri. Kau bercerita bahwa ia kemudian tergelepar di sudut teras. Pada saat itu kau berharap angin indera bayu datang dan membawamu ke tempat lain yang lebih baik sehingga kau tidak perlu menanggung beban sebagai penyebab keributan ini secara tidak langsung.

            Usai pergulatan satu pihak itu, kau lihat Zen mengambil ponsel dari sakunya dan menelepon seseorang yang kau dengar, ia memanggilnya polisi.

Disini, kau menghentikan ceritamu. Ketika kutanya mengapa tidak diteruskan, kau hanya diam. Padahal aku masih menginginkan kelanjutan ceritamu. Dengan suara parau, akhirnya kau terbujuk untuk mengkahiri ceritamu.

            Kau berkata, setelah Zen menelepon polisi, sebuah kaleng beroda empat dengan sirine memekakan telinga datang. Dua orang pria keluar dari dalam sana. Zen mendekati mereka dan masuk ke dalam kaleng itu. Sedangkan Ivan harus dipaksa untuk masuk sebelum akhirnya menyerah, mengakui ketidakberdayaannya dibawah pengaruh alkohol.

Menyebalkan. Kau selalu mengakhiri kisah-kisahmu dengan tatapan nahas seperti itu. Sebelum kau benar-benar mengakhirinya, untuk kesekian kalinya kau membuatku menemukan seluk-beluk baru dalam kehidupan ini.

Katamu, ada satu hal baru yang kau sadari dalam kisah hidup yang kau ceritakan barusan. Sialan! Kau membuatku bertanya-tanya lagi.

Kau meneruskan. Bahwasannya, selama kau hidup, berpindah tempat tinggal, berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya, menjadi bagian dari segala macam transaksi mulai dari transaksi legal maupun ilegal, baru kali ini kau menemukan bahwa tak selamanya dirimu menjadi berguna bagi manusia. Kau menyadari bahwa dirimu bukanlah satu-satunya barang paling berharga di dunia ini. Dan kau menyadari bahwa jika segalanya dapat di selesaikan dengan lembaran kertas bernominal, maka lembaran kertas itu juga dapat memunculkan permasalahan dan konflik antarmanusia. Kau merasa bahwa tak seharusnya uang diberi kemampuan oleh Tuhan untuk memperdaya pemiliknya. Bahkan untuk ukuran uang sebaik dirimu, tanpa kau sadari kau bisa membuat kekacauan dalam hidup manusia. Lantas bagaimana dengan kawan-kawanmu yang berada dalam berangkas milik petinggi-petinggi negeri? Kau kira, jika hidup ini adalah sinetron, maka kawan-kawanmu di sana adalah tokoh antagonis yang menghasut pemilik-pemiliknya untuk mencarikan teman di berangkas dengan cara yang bejat.

           Aku menitikkan air mata kesekian kalinya atas kisah-kisahmu yang mengiris-iris tiap inci tubuh dan jantungku. Kisah-kisahmu berhasil menganiaya perasaan dan emosiku. Kau tersimpul sedangkan aku mengusap air mata yang mengalir dengan malu-malu. Untuk kesekian kalinya pula, aku berterima kasih kepadamu yang telah rela mengulik kenangan-kenangan menyakitkan semacam itu. Kau murah hati membagikan pengalaman hidup yang berharga meski dengan keadaan yang tidak sesehat sejak pertama kali kita bertemu di teras kost itu.

            Bandul jam berdentang sebanyak sepuluh kali di sudut ruangan berukuran 4 x 4 meter yang lengang ini. Aku melirik dan merasa tak ikhlas waktu rehatku telah usai. Dengan berat hari, aku tersenyum basa-basi lantas meninggalkanmu yang telentang di atas nakas ini. Aku beranjak dari duduk lalu berjalan mendekati gawangan kayu tempat aku biasanya menyampirkan jubah kebesaranku. Jubah berwarna hitam dengan aksen warna merah melintang di bagian tengahnya. Tiap kali kupakai, jubah ini selalu memberikan emosi yang berbeda-beda sesuai dengan berat beban yang kupikul.

Usai memakai jubah ini dan sesaat sebelum keluar dari ruangan, tiba-tiba terlintas di fikiranku untuk membuka laci di salah satu meja di pojok ruangan ini. Dari malam-malam sebelumnya laci itu memang mengusikku. Terlebih setelah mendengar semua kisah-kisah itu, aku makin terusik. Tanpa fikir panjang aku langsung mendekati laci meja itu serta memutar kepala kunci pada lubangnya. Aku tahu kau memperhatikanku dengan seksama dari atas nakas. Dari dalam laci, kuambil sebuah tas tenteng yang terbuat dari bahan kulit yang keras. Segera kubuka pengait tas itu dan seketika tumpukan kertas persegi panjang berwarna merah yang ditata sedemikian rupa terpampang di hadapanku.  Kututup kembali tas itu dan langsung kubawa keluar.

Dalam perjalanan menuju ruang sidang, aku sempat mampir ke rumah sakit dekat pengadilan untuk mengembalikan tas itu pada seorang anggota dewan yang sedang dirawat di sana akibat mendapat tikaman dari anaknya sendiri. Entah dia membujukku seperti apa pun, aku tetap bertekad mengembalikan tas berisi ratusan lembar kertas itu.

Sekembalinya dari sana, barulah aku pergi menuju ruang pengadilan yang dingin. Karena sudah telat beberapa menit, aku segera masuk dan menata beberapa berkas putusan lantas membacakannya di hadapan dua orang pemuda. Salah satu pemuda didakwa atas tindakan pemerkosaan dan penganiayaan. sedangkan salah satu pemuda didakwa atas tindakan percobaan pembunuhan.

***

Iklan
Diposkan pada filosofi

Kaktus Tak Selalu Jahat

images-6.jpegKata kaktus pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita, bukan? Kaktus (Cactaceae) merupakan tumbuhan xerofit berbatang hijau lunak yang umunya hidup di lingkungan yang gersang dan memiliki sedikit pasokan air.

Bentuk adaptasi kaktus yang khas memberikan keistimewaan sendiri. Maka banyak orang yang memanfaatkannya sebagai tanaman hias atau sekedar koleksi. Meskipun kaktus tidak terlalu besar manfaatnya bagi manusia, bukan berarti Tuhan tidak memberikan pesan dan filosofi melalui diciptakannya kaktus ini. Tiap-tiap bagian kaktus itu mempunyai filosofi ya guys.

1. Filosofi Batang Kaktus

Batang kaktus yang tebal dan menyimpan banyak air sebagai bentuk menghadapi cuaca yang kering. Hal ini mengajarkan kita untuk senantiasa menimba, menyerap, dan mengamalkan ilmu sebanyak-banyaknya sebagai bekal masa depan. 

2. Filosofi Duri Kaktus

Masih ingat kan dengan kalimat “Don’t judge everything from the cover”?  Ya, duri kaktus yang tajam, tidak menarik dan melukai, mengajarkan kita untuk senantiasa tidak menilai sesuatu hanya dari penampilan luarnya saja. Karna pada saatnya nanti kaktus akan menampakkan bunganya yang tak kalah cantik dengan bunga-bunga lainnya.

3. Filosofi Bunga Kaktus

images-3.jpeg

Jangan mengira kalau kaktus tidak memekarkan bunga ya. Sebagian dari kita memang jarang melihat indahnya bunga kaktus. Sebab menanti mekarnya bunga kaktus ini membutuhkan waktu yang lama. Nah dari hal ini kita belajar tentang arti kesabaran. Terutama bagi para pemilik kaktus. Perlu diingat bahwa sesuatu yang indah pasti membutuhkan proses dan kesabaran yang tidak sebentar.

4. Filosofi Akar Kaktus

Akar kaktus tumbuh sangat panjang dan menyebar yang bertujuan agar dapat menyerap air dalam jangkauan yang luas. Hal ini  mengajarkan kita untuk semakin bekerja keras dan tidak putus asa dalam mencapai dan mewujudkan impian.

5. Filosofi Cara Bertahan Hidup Kaktus

Kaktus termasuk tanaman yang tidak sulit dalam hal perawatan. Sebulan tidak disiram air pun kaktus masih dapat bertahan hidup, tidak seperti tanaman yang lain. Tapi, bukan berarti kaktus bisa hidup tanpa air ya. Kaktus tetaplah makhluk hidup. Begitupun dengan kita, seberapapun derajat seseorang, kita tidak boleh semena-mena terhadapnya. Karna manusia pasti mempunyai perasaan. 

Kita juga harus mampu bertahan dalam segala kondisi baik senang maupun susah, layaknya kaktus yang bertahan hidup di lingkungan kering.

Itu dia beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari sebuah kaktus. Semoga dapan menambah manfaat bagi kita!

Diposkan pada Lifestyle

Terapkan 5 Hal ini Agar hubunganmu Tak Membosankan

images.jpgBeberapa orang menginginkan hubungan asmaranya langgeng dan sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Namun nyatanya, beberapa orang merasakan sulitnya mempertahankan hubungannya dengan orang yang dicintai. Beragam faktor  penyebab keretakan hubungan mulai dari rasa bosan, jenuh, lelah, sakit hati, ataupun yang lainnya mengakibatkan beberapa orang putus asa untuk mempertahankan hubungan, terlebih lagi apabila hubungan itu sudah dijalani selama bertahun tahun. Lalu bagaimana sebenarnya cara yang mudah untuk mempertahankan hubungan ? Berikut beberapa tips yang bisa kamu terapkan:

1. Ungkapkan perasaan satu sama lain

cobalah bertanya padanya apakah dia merasa bosan atau  adakah faktor lain yang menyebabkan sikapnya berubah. Selain itu juga penting untuk mengungkapkan semua yang kamu rasakan agar dia mengerti dan terbiasa untuk terbuka. Dengan demikian kemungkinan retaknya hubungan dapat diminimalisir karna keterbukaan satu sama lain.

2. Perlancar komunikasi

Setelah adanya keterbukaan satu sama lain, maka eratkanlah hubungan dengan komunikasi yang rutin dan selalu utamakan dirinya agar dia merasa menjadi bagian penting dalam keseharianmu. Jangan biarkan kesibukan menghalangi komunikasi satu sama lain. Begitu juga apabila pasanganmu hanya mempunyai waktu sedikit untuk berkomunikasi. Manfaatkan waktu yang sedikit itu untuk menciptakan suasana romantis dan nyaman agar dia merasa dicintai dan selalu membutuhkanmu. Maka lama kelamaan pun dia terbiasa untuk selalu menghubungimu dan bergantung padamu.

3. Tahan emosi

Ini adalah tahap yang paling susah dilakukan karna ego dan emosi tiap orang berbeda. Tahan emosi kamu apabila ada sesuatu yang meyulut kemarahan ataupun menimbulkan sakit hati. Jangan langsung memikirkan kejelekannya dalam keadaan emosi karna hal tersebut justru semakin membuat emosi menjadi jadi. Ingatlah hal hal positif dan kenangan kenangan indah bersamanya. Jangan lampiaskan kemarahan kepadanya apabila kamu tidak Ingin membuatnya jenuh. Cukup bicarakan baik-baik dan sibukkan dirimu dengan hal lain agar emosi itu berkurang.

4. Sesekali saling memberi kejutan

Tidak perlu dengan sesuatu yang mahal atau romantis. Cukup buat dia merasa terkejut, misal dengan kedatanganmu didepan rumahnya, memposting foto-fotonya di media sosial-mu memberinya pelukan secara tiba-tiba dan lain-lain. Itu semua akan membuatnya semakin mencintaimu dan merasa bahwa dirinya yang paling spesial bagimu.

5. Jangan katakan I love you tapi katakan aku sayang padamu

Sempatkanlah untuk mengatakan bahwa kamu sangat mencintainya. Akan lebih baik bila kamu mengatakan ‘aku sayang kamu’ daripada I love you, karna kalimat ‘aku sayang kamu’ akan terasa lebih menyentuh daripada kalimat i love you.

Ya, itu dia beberapa tips yang mungkin bisa membantumu untuk mempererat ataupun mempertahankan hubunganmu yang sedang retak. Jalani sebaik mungkin dan tetaplah berusaha. jangan menyerah, karna takdir itu Tuhan yang menentukan. 

Terimakasih telah membaca artikel ini. Semoga bermanfaat!